Sejarah

Latar Belakang

Aceh memiliki potensi dibidang perikanan yang sangat luas, budidaya tambak Aceh memiliki luas sekitar 50.000 Ha di seluruh wilayah Provinsi Aceh. Setelah musibah tsunami sebagian besar tambak di Aceh menjadi rusak akibat gelombang tsunami dan 170.000 orang meninggal dunia, musibah ini juga membantu tercapainya kesepakatan perdamaian di Aceh dengan pemerintah Indonesia dan Alhamdulillah kondisi politik Aceh sekarang menjadi aman. Tahun 2005 dan 2006 beberapa NGO dari berbagi Negara melakukan rehabilitasi tambak di Aceh, dan pada tahun 2007 beberapa lembaga yang concern terhadap perikanan seperti FAO, ADB, NACA, WFC, WWF, IFC melakukan konsorsium untuk memberikan pelayanan teknis kepada perikanan budidaya di Aceh dengan menerapkan sistem Better Management Practices (BMPs) dengan memberdayakan petambak melalui sistem cluster kelompok di setiap desa melalui Kontak Petambak (KP).

Budidaya perikanan merupakan salah satu mata pencaharian terpenting di wilayah pesisir Aceh. Dan memberikan kontribusi yang besar untuk perikanan di Indonesia, budidaya perikanan memberikan 16% dari total hasil produksi perikanan, terutama udang windu, saat ini perikanan budidaya seperti bandeng dan nila sudah sangat tinggi permintaan bagi keperluan rumah tangga, sedangkan produksi udang kebanyakan untuk kebutuhan import.

Semenjak tahun 2005, berbagai macam donor telah memberikan bantuan teknis dan rehabilitasi tambak untuk perbaikan dibidang perikanan budidaya di Aceh. Melalui perbaikan rekontruksi infrastruktur yang disebabkan oleh gempa dan tsunami, pada tahun 2007 lebih mengutamakan memperbaiki keahlian petambak dibidang budidaya, pelayanan teknis ini diberikan terutama untuk pembudidaya udang windu dan budidaya perikanan, pelayanan teknis ini mencapai puncak nya pada tahun 2010, ketika Asian Development Bank (ADB) dan WorldFish Center (WFC) memberikan bantuan untuk pelayanan budidaya di empat titik pelayanan livelihood service center (ALSC) mencapai 2639 anggota petambak dari 93 desa di 4 kecamatan.

Setelah berakhirnya lembaga NGOs di Aceh pada tahun 2010, Aceh Aquaculture Cooperative (AAC) – Koperasi Produsen Perikanan Budidaya Aceh melanjutkan kegiatan pendampingan teknis ke para petambak budidaya tambak di Aceh, dengan kapasitas yang sangat terbatas dan tidak adanya dukungan dana maka jumlah petambak yang mendapatkan pelayanan teknis berkurang drastis.

Dengan mengajukan idea bisnis dengan para pembudidaya Aceh untuk memperbaiki kapasitas usaha petambak Aceh, Koperasi Produsen Perikanan Budidaya Aceh atau dikenal dengan Aceh Aquaculture Cooperative (AAC), melalui scaling out/up kegiatan untuk menekankan kemiskinan,dan memperbaiki pendapatan pembudidaya, untuk meraih pencapaian ini membutuhkan dukungan beberapa perbaikan disektor budidaya, diantara nya membutuhkan hatchery untuk menghasilkan bibit udang yang unggul, infrastuktur, penguatan kelompok dan akses agro input kredit ke anggota petambak di Aceh.

Aceh Aquaculture Cooperative (AAC) akan menjalankan pelayanan teknis dan agro input kredit ke masyarakat budidaya melalui anggota kelompok dan pelayanan teknis dengan menyediakan tenaga teknis yang berpengalaman dan profesional melalui central bisnis unit dibawah naungan koperasi produsen perikanan budidaya. Koperasi akan menjalankan budidaya bisnis unit secara berkelanjutan berdasarkan sistem dan prinsip-prinsip koperasi di Indonesia.

Aceh Aquaculture Cooperative (AAC) akan menjalankan kegiatan ini dengan para pembudidaya udang secara berkelanjutan dan pembudidaya perikanan bandeng, nila serta hasil produksi lain nya.

Dalam menjalankan model bisnis, Aceh Aquaculture Cooperative (AAC) mendapatkan dukungan teknis dari program Worldfish Center – IDH untuk tahun 2014-2015, dan Aceh Aquaculture Cooperative (AAC) membuat commitment kerjasama dengan beberapa value chain yang terlibat dalam proses budidaya antara lain, dengan para petambak, hatchery, supplier pakan dan processor udang yang menampung hasil produk anggota. Semua value chain yang terlibat dalam kerjasama bisnis dengan Aceh Aquaculture Cooperative (AAC) telah setuju membuat kesepakatan kerjasama dalam bentuk MOU.


Rencana Pengembangan Aceh Aquaculture Cooperative

Pengembangan budidaya di Aceh merupakan kelanjutan program setelah masa pemulihan ekonomi dibidang budidaya pasca tsunami dengan pengembangan pengenalan tentang system budidaya yang baik dan ramah lingkungan, diharapkan pengembangan budidaya kedepan dengan system BMPs dan secara berkelanjutan yang akan difasilitasi oleh Aceh Aquaculture Cooperative (AAC) untuk meningkatkan keberhasilan dibidang budidaya dan pendapatan rumah tangga bisa meningkat melalui kerjasama dengan beberapa value chain yang terlibat didalam pengembangan budidaya perikanan melalui Aceh Aquaculture Cooperative.

Sejak pembentukan Koperasi Perikanan Budidaya Aceh sudah membangun kerjasama dengan beberapa lembaga dalam rangka  pengembangan dan penguatan lembaga secara internal dan dukungan teknis, lembaga- lembaga yang sudah mempunyai kesepakatan kerjasama dan commitment yang tinggi untuk menerpakan cara budidaya udang secara berkelanjutan dengan model business.

1.Worldfish Center (WFC)

WorldFish Center yang berpusat di Penang Malaysia merupakan bagian group dari international Agricultural research (CGIAR) yang merupakan lembaga international non profit pusat penelitian ilmuan untuk mengembangkan perikanan secara berkelanjutan di Negara-negara yang sedang berkembang.

WorldFish Center melakukan pengelolaan secara teknis program budidaya udang dengan koperasi perikanan budidaya, programnya untuk memperbaiki kapasitas koperasi Aceh Aquaculture Cooperative (AAC) melalui penyampaian pengetahuan secara teknik dan Capacity Building untuk pengembangan usaha bisnis koperasi yang tujuannya untuk memperbaiki pendapatan masyarakat dan mempromosikan produk budidaya yang bertanggung jawab secara berkelanjutan melalui pengembangan budidaya. Secara umum WorldFish Center bekerjasama dengan Aceh Aquaculture Cooperative (AAC) memiliki tujuan sebagai berikut.:

  • Penguatan kerjasama antara WorldFish Center dan Aceh Aquaculture Cooperative (AAC) untuk mempromosikan praktek budidaya yang baik secara berkelanjutan untuk anggota Aceh Aquaculture Cooperative (AAC) di Aceh.
  • Mendukung pengembangan petambak kecil melalui model bisnis yang berkelanjutan yang akan difasilitasi oleh koperasi Aceh Aquaculture Cooperative (AAC).
  • Menghubungkan Aceh Aquaculture Cooperative (AAC) dan anggotanya ke pasar lokal dan pasar ekspor.

2.WWF

WWF Indonesia menginisiasi JARING-Nusantara untuk mendukung kelompok nelayan dan pembudidaya serta kelompok swadaya masyarakat yang berkomitmen positif untuk mentransformasi kelompok dampingan mereka menjadi berkelanjutan dan bertanggungjawab.

Aceh Aquaculture Cooperative (AAC) yang merupakan bagian dari JARING-Nusantara semenjak tahun 2013, sampai saat ini mempunyai lebih dari 200 orang anggota, yang terdiri dari pembudidaya udang (udang windu serta udang vannamei) di 3 wilayah kabupaten di Provinsi Aceh. Dalam rangka turut berkontribusi pada terwujudnya produk udang hasil budidaya yang bertanggung-jawab sesuai dengan BMPs dan prinsip – prinsip yang termuat pada standard ASC-Shrimp, maka Aceh Aquaculture Cooperative (AAC)   sebagai sebuah koperasi produsen perikanan budidaya  Aceh akan melayani anggota petambak dengan system cluster di setiap kelompok di daerah binaan untuk menerapkan cara budidaya udang yang lebih baik(BMPs) serta pengenalan prinsip-prinsip ASC-shrimp.

Di Aceh timur, Kecamatan Simpang Ulim, Aceh Aquaculture Cooperative (AAC) membina pembudidaya udang windu tradisional sebanyak 30 orang, dengan luasan wilayah tambak sebesar kurang lebih 30 ha, dan dengan potensi produksi udang windu sebanyak 18 – 24 ton per tahun. Desa bantayan merupakan salah satu wilayah di Kecamatan Simpang Ulim yang memiliki potensi perikanan budidaya khususnya udang windu, masyarakat diwilayah ini sangat tertarik dan mau bekerjasama dalam menciptakan produksi udang yang bertanggung jawab, Aceh Aquaculture Cooperative (AAC) dan WWF-Indonesia berkomitmen untuk membina masyarakat budidaya udang secara berkelanjutan di wilayah Aceh, dengan harapan ke depannya masyarakat budidaya mampu meningkatkan hasil produksi yang bertanggung jawab berdasarkan BMPs dan prinsip-prinsip ASC -shrimp.          

3.Hatchery

Aceh Aquaculture Cooperative (AAC) dalam rangka pengadaan bibit udang yang berkualitas ke petambak bekerjasama dengan beberapa Hatchery lokal di Aceh, untuk saat ini bekerjasama dengan hatchery Swadaya di Bireuen untuk kebutuhan udang windu dan vannamei, ke depannya Aceh Aquaculture Cooperative (AAC) akan bekerjasama dengan hatchery anggota koperasi petambak untuk memproduksi bibit yang berkualitas setelah melewati tes Laboratorium dan penerapan sistem yang baik. Para anggota Aceh Aquaculture Cooperative (AAC) akan mengambil kebutuhan benur lewat koperasi di setiap siklus budidaya dengan sistem clusterisasi atau penebaran secara serentak dalam setiap satu cluster.

4.Pakan dan pabrik udang

Untuk memenuhi kebutuhan pakan untuk para anggota koperasi Aceh Aquaculture Cooperative (AAC) sudah membangunkan kerjasama dengan beberapa perusahaan pakan di Indonesia, untuk saat ini banyak para anggota Aceh Aquaculture Cooperative (AAC) membeli pakan dari PT CP indoprima yang diproduksi dari Medan pakan ini digunakan untuk udang vannamei, koperasi Aceh Aquaculture Cooperative (AAC) akan mengcover kebutuhan pakan untuk anggota yang terdiri dari, pakan Vanname, Tiger dan pakan untuk ikan nila dan bandeng, untuk memenuhi kebutuhan ini Aceh Aquaculture Cooperative (AAC) akan bekerjasama dengan pakan Grobest yang ada di Jakarta. Sistem penjualan ke para anggota Aceh Aquaculture Cooperative (AAC) dengan menggunakan scema SSP (Semusim Semasa Panen).dengan ketentuan para anggota Aceh Aquaculture Cooperative (AAC) akan membagi sebagian keuntungan untuk koperasi.

Untuk menjual produk para Anggota koperasi Aceh Aquaculture Cooperative (AAC) sudah bekerjasama dengan pabrik udang Seafood Sumatera Perkasa(SSP) yang ada di Medan, tenaga teknis dari koperasi akan menfasilitasi panen para anggota koperasi untuk memenuhi permintaan dan menjamin kualitas udang yang berkualitas, sedangkan dari pihak pabrik udang dan Aceh Aquaculture Cooperative (AAC) sudah ada suatu kesepakatan untuk membeli udang para anggota Aceh Aquaculture Cooperative (AAC) dengan harga premium, dengan ketentuan kualitas yang bagus dan berdasarkan size udang.